Kata Pengantar
Dengan
memanjatkan puji serta syukur Kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan Rahmat
dan Hidayah-Nya sehingga penulis dapat melaksanakan kegiatan pendidikan system
ganda serta dapat menyelesaikan laporan hasil prakerin ini yang merupakan
bagian dari pendidikan sistem ganda.
Laporan
ini dibuat sebagai salah satu persyaratan untuk mengikuti ujian akhir nasional
dan akhir sekolah.
Pada
kesempatan ini saya selaku penulis ingin mengucapkan terima kasih bantuan yang
telah di berikan baik moril maupun spiritual, terutama kepada.
1. Mayda Purnama, ST.
sebagai Kepala Sekolah SMK Darussalam Panongan Kabupaten Tangerang
2. Dadang Hermawan, ST. sebagai Ketua Jurusan Teknik
Komputer Jaringan SMK Darussalam Panongan 5 Kabupaten Tangerang
3. Juni Setiawan, A.Md
sebagai Pembimbing Sekolah
4. Bapak Eddy Djaja sebagai Pimpinan HRD PT. Hi-Lex Indonesia
5. Bapak Ujang Maulana sebagai Pembimbing Dunia Industri
6. Bapak Ihar sebagai Leader
7. Ibu Siti Alfiatun
8. Keluarga Besar PT. Hi-Lex
Indonesia
9. Keluarga Besar SMK Darussalam Panongan Kab. Tangerang
10.
Seluruh
teman-teman yang telah membantu saya dalam penyelesaian laporan.
Akhir
kata saya ucapkan terima kasih atas dukungan dan bantuannya. Mohon maaf apabila
terdapat kesalahan dan kekurangan dalam
penyusunan laporan kegiatan pedidikan system ganda di PT. HI-LEX INDONESIA.
Oleh karena itu, saran dan kritik yang sifatnya membangun sangat saya harapkan
guna perbaikan di masa yang akan dan semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi
kita semua, khususnya bagi saya sendiri.
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Dalam era globalisasi ini, para siswa-siswi lulusan SMK dituntun untuk
dapat mempersiapkan mental dalam menghadapi persaingan di dunia industri yang
semakin ketat. Oleh karena itu, setiap pihak Sekolah Menengah Kejuruan menjalin
kerjasama dengan dunia industri untuk dapat melaksanakan Program Praktek Kerja
Industri.
Program Praktek Kerja Industri
(Prakerin) ini adalah suatu program kegiatan setiap pihak Sekolah Menengah
Kejuruan yang dapat memberikan berbagai ilmu pengetahuan dari dunia industri
kepada para siswa-siswinya.
B. DASAR PENULISAN
Adapun beberapa ketentuan yang tertuang pada UU No.2 tahun 1989 tentang
Sistem Pendidikan Nasional, PP No.29 tahun 1990 tentang Pendidikan Menengah, PP
No.39 tahun 1992 tentang peran masyarakat dalam Pendidikan Nasional. Adapun isi
daripada UU tersebut antara lain:
- Penyelenggara pendidikan dilaksanakan melalui 2
(dua) jalur Pendidikan Sekolah dan jalur Pendidikan Luar Sekolah (UUSPN, Bab
IV Pasal 10 ayat 1).
- Penyelenggaraan Sekolah Menengah dapat bekerja sama
dengan masyarakat terutama dunia usaha dan para dermawan untuk memperoleh
sumber daya dalam rangka menunjang penyelenggara dan pengembangan
pendidikan (PP 29 Bab 29 ayat 1).
- Pengadaan dan pendayagunaan Sumber Daya Pendidikan
dilakukan oleh pemerintah, masyarakat dan keluarga peserta didik (UUSPN,
Bab VIII Pasal 33).
- Peran
serta masyarakat dapat berbentuk pemberian kesempatan untuk magang dan
atau latihan kerja (PP 39 Bab III Pasal 4 Butir 8).
- Masyarakat
sebagai mitra pemerintah berkesempatan yang seluas-luasnya untuk berperan
serta dalam penyelenggara Pendidikan Nasional (UUSPN, Bab XIII Pasal 47
ayat 1).
- Pemerintah
dan masyarakat menciptakan peluang yang lebih besar untuk meningkatkan
peran serta masyarakat dalam Sistem Pendidikan nasional (PP 39 Bab VI
Pasal 8 Ayat 2).
- Pada
Sekolah Menengah dapat dilakukan uji coba gagasan baru yang diperlukan
dalam rangka pengembangan pendidikan menengah (PP 29 Bab XIII Pasal 32
Ayat 2).
- Pelaku peran
serta masyarakat dapat mengadakan forum konsultasi, kerjasama dan
koordinasi (PP 39 Bab VI Pasal 10).
C. MAKSUD DAN TUJUAN
Tujuan penulisan laporan praktek
kerja industri ini tidak lain adalah sebagai salah satu syarat untuk dapat
mengikuti Ujian Akhir Nasional. Adapun tujuan lainnya adalah sebagai berikut:
- Penulis mampu memahami dan mengembangkan pelajaran
di sekolah dan penerapannya di dunia usaha.
- Penulis mampu mencari alternatif dalam pemecahan
permasalahan kejuruan yang sesuai dengan program studi yang dipilih.
- Mengumpulkan data guna kepentingan sekolah dan penulis.
- Menambah ilmu dan wawasan serta pengalaman penulis dalam
pembuatan suatu laporan kerja.
BAB II
TINJAUAN
UMUM PT. HI-LEX INDONESIA
A. SEJARAH SINGKAT
PT.
LIPPO TSK INDONESIA yang berpusat di jalan Lio Baru Desa Karang Sari,
Kecamatan Batu Ceper Tangerang, PO.BOX
126 Tangerang Jawa Barat, Telepon 021-5522331, fax 021-5522325. TSK adalah singkatan dari TARAZUKA SHOKUDOKAN KAISHA, didirikan
pada tanggal 21 November 1978 dengan akte Notaris Besasa Daeng Lalo SH, di
Jakarta dengan No.104 PT. LIPPO TSK
INDONESIA berdiri diatas tanah seluas 21.115 meter persegi, dengan luas
bangunan 5000 meter persegi dan berstatus PMA (Penanaman Modal Asing) yang
diresmikan pada tanggal 9 Februari 1981.
PT.
LIPPO TSK INDONESIA merupakan perusahaan swasta dengan modal sebesar US$ 2.000.000 pada tahun 1978 dan kemudian pada
tahun 1980 mengeluarkan penambahan modal sebesar US$
1.500.000 atas kerja sama antara Indonesia dengan Jepang. Pihak Indonesia dengan modal 60% sedangkan pihak
Jepang 40% maka perusahaan tersebut terdiri dari dua pemegang saham yaitu Indonesia
dengan nama NIPPON CABLE SYSTEM INC.
Mulai tertanggal 1 Agustus 2001 PT. LIPPO TSK INDONESIA sudah berganti
nama menjadi PT. HI-LEX INDONESIA dan
sekarang luas PT. HI-LEX INDONESIA telah
bertambah luas menjadi 5.982 meter persegi (luas tanah dan gedung). Penanaman
modal asing (PMA) PT. HI-LEX INDONESIA 100%
milik Jepang dan telah mendapatkan sertifikat ISO (Internasional Standard
Organization) ISO9002 (tahun 1997), sertifikat QS (Quality System) QS9000 (tahun
2001) dan sertifikat TS 16949.
B. STRUKTUR ORGANISASI
Organisasi merupakan hal yang
penting bagi perusahaan, karena organisasi merupakan wadah bagi segenap pegawai
ataupun karyawan.
Untuk mencapai suatu tujuan yang
telah ditetapkan dan direncanakan, suatu perusahaan tentu tidak akan terlepas
dari berbagai macam masalah-masalah organisasi.
Untuk setiap instansi baik yang bergerak
dalam pemerintahan maupun swasta tentu memiliki struktur organisasi dan sangat
penting manfaat dan gunanya dalam membantu atasan-atasan dalam menjalankan
tugas mereka.
Organisasi juga merupakan rangkaian menyusun suatu rangka sebagai wadah
bagi segenap kegiatan dari usaha kerjasama, dan juga untuk mempermudah
pelaksanaan kerja, membagi-bagi kegiatan atas kegiatan yang khususnya mempermudah
pengorganisasian oleh pihak atasan, mencegah kegiatan-kegiatan yang
bertumpuk-tumpuk dan sebagainya.
Karena dengan tanpa adanya struktur
organisasi yang jelas dalam suatu lembaga maka akan terjadi suatu
kesimpangsiuran dalam bekerja. Namun
hal ini tidak akan terjadi apabila suatu lembaga atau perusahaan memiliki
struktur organisasi yang jelas dan baik. Oleh karena itu struktur organisasi
dipandang sangat perlu dalam suatu lembaga pemerintahan maupun swasta.
Dalam
mengkoordinir setiap kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan perusahaan,
perlu adanya kegiatan yang terorganisir sehingga tidak terjadi penyimpangan
dalam bekerja, dan untuk tercapainya tujuan dari perusahaan untuk memajukan
perusahaan, setiap organisasi mengkoordinir suatu departemen yang dipegangnya.
Tiap
departemen memegang peranan yang sangat vital karena merupakan jantung
perusahaan, maka diperlukan adanya kerjasama dan koordinasi antara departemen
yang satu dengan yang lain sehingga setiap kesalahan dapat diselesaikan dengan
baik. Koordinasi antara PT. HI-LEX
INDONESIA sangat solid ini dibuktikan dengan apabila ada permasalahan
sekecil apapun namun dapat diselesaikan melalui internal maupun eksternal
meeting, kesalahan yang ada pada customer ataupun vendor masing-masing
departemen dapat bekerja sama untuk memecahkan setiap permasalahan.
Sebagai
perusahaan yang mempunyai system ISO, QS dan TS maka disetiap departemen selalu
diadakan audit secara internal oleh pihak perusahaan ataupun eksternal oleh
pihak auditor. Audit secara internal ini adalah penting sehingga setiap
kelemahan yang ada dalam tubuh perusahaan selalu bisa dihilangkan. Audit ISO,
QS dan TS ini diselenggarakan 1 tahun dua kali.
Customer juga sering
menyelenggarakan audit secara berkala ketika ada kesalahan dalam proses
pembuatan kabel maupun kesalahan dalam gambar. Setiap departemen yang terlibat
akan memperbaiki segala kesalahan sehingga proses produksi berjalan dengan
lancar, sehingga perusahaan dapat menghasilkan barang yang dapat digunakan oleh
konsumen.
Adapun tanggung jawab tiap bagian
dalam struktur organisasi PT. HI-LEX
INDONESIA adalah sebagai berikut:
1.
President Director bertanggung jawab penuh atas segala
sesuatu yang ada dalam perusahaan baik didalam ataupun diluar.
2. Vice President Director bertindak mewakili
tugas-tugas dari President Director apabila berhalangan.
3. Managing Director mengkoordinir dan
bertanggung jawab atas tugas yang diberikan sehari-hari dan kegiatan yang
dibawahinya.
4.
Production Manager
·
Mengupayakan cara-cara yang baik untuk memproses
barang-barang yang dikerjakan di dalam pabrik sejak barang mentah digudang.
·
Mengontrol penggunaan mesin-mesin yang dipakai
dalam produksi.
·
Menghitung waktu dan ongkos yang diperlukan untuk
setiap produksi.
·
Mengawasi dan meneliti apakah pekerjaan yang
dikerjakan sesuai dengan standard yang ditetapkan atau tidak.
·
Mengkoordinir pekerjaan-pekerjaan yang
didelegasikan kepada Supervisor guna kelancaran produksi.
5.
Personal Manager
·
Bertanggung jawab atas penerimaan karyawan baik
training maupun tetap.
·
Menempatkan dan memberhentikan karyawan.
·
Bertanggung jawab atas pembayaran gaji.
·
Bertugas
menjaga kestabilan atau ketenangan kerja di perusahaan.
·
Bertanggung
jawab terhadap kepengurusan fasilitas-fasilitas baik yang menyangkut karyawan
maupun pimpinan.
·
Mengurus
kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan masyarakat.
6.
Accounting Manager
·
Mengatur
prosedur pembukuan yang memenuhi prinsip-prinsip keuangan serta menyajikan
data-data keuangan setiap bulan.
·
Merencanakan dan mengendalikan penggunaan dana,
dalam hal ini kas.
·
Bertanggung jawab terhadap perhitungan rugi/laba.
·
Mengendalikan kewajiban-kewajibannya terhadap
kreditur, pajak serta melaporkan analisa tersebut kepada Managing Director.
7.
Production Manager
Melaksanakan tugasnya dibantu oleh supervisor,
supervisor yang membawahi pekerjaan-pekerjaan di pabrik yaitu:
·
Produksi Supervisor bertugas mengawasi proses
produksi.
·
Maintenance bertugas dalam penyelesaian produksi
pada assembling dan memelihara mesin-mesin.
·
Assembling
tugasnya terbagi dari line-line, inspection dan DCM.
·
PPC dan Store Room bertugas mengendalikan dan
mengawasi, di dalam hal ini melayani permintaan material dan menyimpan material
tersebut, serta melayani permintaan distributor.
C. KEPEGAWAIAN
Pegawai adalah golongan masyarakat
yang bekerja dan mempunyai aktifitas pada organisasi baik instansi pemerintah
maupun kesatuan kerja swasta.
HARI
|
JAM SENAM
|
WAKTU KERJA
|
ISTIRAHAT
|
I
|
II
|
III
|
SENIN
KAMIS
|
07.40
|
07.50 ~
16.55
|
09.50 ~ 10.00
|
12.00 ~
12.40
|
15.40 ~
15.55
|
JUM’AT
|
07.40
|
07.50 ~ 16.55
|
09.50 ~
10.00
|
11.30 ~
12.40
|
15.40 ~
15.55
|
SABTU
MINGGU
|
06.10
|
06.20 ~
14.20
|
09.20 ~
09.30
|
11.30 ~
12.20
|
15.40 ~
15.55
|
- Shift
1. Jam 06.25-15.25
- Shift
2. Jam 15.25-24.25
- Shift
3. Jam 21.25-06.30
Syarat-syarat penerimaan:
1.
Warga Negara Indonesia
dan warga negara asing yang disetujui dan diizinkan untuk bekerja oleh
pemerintah Indonesia.
2.
Berumur serendah-rendahnya 17 Tahun.
3.
Berbadan sehat.
4.
Berkelakuan baik dan sesuai dengan keterangan dari
kepolisian.
5. Lulus dalam tes yang diadakan oleh
perusahaan.
6. Tidak terlibat dalam kegiatan partai
politik yang bertujuan merubah dasar Negara yang dibuktikan dengan surat
keterangan dari instansi pemerintah.
7. Bersedia mentaati peraturan/tata tertib
yang berlaku dalam perusahaan.
8. Hanya bekerja pada PT. HI-LEX INDONESIA (karyawan yang bekerja pada perusahaan lain
tidak diterima sebagai karyawan).
Masa percobaan:
1.
Bagi yang masih dalam masa percobaan ditetapkan selama
3 bulan.
2.
Selama dalam masa percobaan karyawan yang bersangkutan
tidak boleh mempunyai hubungan kerja dengan perusahaan atau instansi lain.
3.
Apabila karyawan/karyawati yang telah menyelesaikan
masa percobaan dengan baik, diangkat sebagai karyawan tetap.
4.
Karyawan/karyawati yang telah menjadi karyawan tetap
akan mendapat haknya menerima upah tetap dan premi hadir.
Penempatan dan mutasi karyawan:
1.
Karyawan dapat dimutasikan dari bagian satu ke bagian
lain sesuai dengan pekerjaan yang membutuhkan keahliannya.
2. Mutasi akan menumbuhkan rasa kepuasan dan semangat
dalam bekerja, juga meningkatkan aktifitas kerja bagi senior yang dimutasikan
untuk menduduki posisi suatu jabatan yang lebih tinggi dari posisi jabatan
sebelumnya.
D.
SISTEM PROSES KONTROL KABEL
DIAMETER PT. HI-LEX INDONESIA
1. Customer
Customer atau pelanggan adalah sebuah
perusahaan yang membeli kabel di PT. HI-LEX
INDONESIA, kebanyakan customer bergerak dibidang automotif karena kabel
yang ada di PT. HI-LEX INDONESIA merupakan
kabel-kabel motor dan mobil, adapun jenis-jenis kabel yang diproduksi antara
lain:
·
Cable assy, Parking Brake (Rem)
·
Cable assy, Hand Brake (Rem)
·
Cable assy, Front Brake (Rem)
·
Cable assy, Cluth (Kopling)
·
Cable assy, Accelerator (Gas)
·
Cable assy, Speedometer (RPM)
·
Cable assy, Transmission (Great Transmisi)
·
Cable assy, Fuel Lid Lock, dll.
Jenis-jenis produk tersebut dikirim
setiap hari pada pelanggan/kustemer untuk keperluan suku cadang kendaraan.
Adapun definisi dari customer itu sendiri yaitu pelanggan dari produk yang
dihasilkan oleh pembuat (Produsen) dalam hal ini customer disebut sebagai
konsumen atau pemakai, sebagai contoh PT.
HI-LEX INDONESIA disebut sebagai pembuat atau penghasil suku cadang
automotif baik motor maupun mobil sedangkan kustemer seperti HONDA, SUZUKI,
ISUZU, dan lain-lain disebut sebagai pelanggan atau pemakai produk yang
dihasilkan oleh PT. HI-LEX INDONESIA.
a. Nama-nama perusahaan pelanggan (Customer)
·
PT. Toyota
Astra Motor.
·
PT. Astra Honda Motor.
·
PT. Indomobil Suzuki INT.
·
PT. Astra Daihatsu Motor.
·
PT. Astra Honda Mobil.
·
PT. Yamaha.
·
PT. Kawasaki.
2. Drawing
Kustemer
Dalam pembuatan
kabel di PT. HI-LEX INDONESIA, terlebih dahulu
customer memberikan drawing ke Marketing yang isinya gambar tentang kabel yang akan dibuat di PT. HI-LEX INDONESIA, gambar kabel itu
bisa merupakan master drawing yang akan dijadikan acuan dalam pembuatan kabel,
kustemer memberikan gambaran tentang komponen apa yang akan dipergunakan,
dimensi material dan gambar detail yang akan membantu dalam proses pembuatan
kabel yang akan dibuat.
Pada dasarnya PT. HI-LEX INDONESIA hanya membuat kabel
yang sesuai dengan gambar dari kustemer, dan apabila komponen yang ada dalam
gambar kustemer tidak ada dalam bahan di PT.
HI-LEX INDONESIA, maka gambar tersebut akan dikembalikan ke kustemer dan
akan dipelajari oleh pihak kustemer. Dan di dalam pengembalian itu bila kustemer
mempunyai bahan lain yang bisa digunakan dalam pembuatan kabel yang akan dibuat,
maka kustemer memberikan gambar yang isinya perubahan bahan yang baru.
Bila dalam bahan
penggantinya tidak ada juga, PT. HI-LEX INDONESIA memberikan bahan
pengganti yang ada yang bisa dipergunakan dengan mempunyai fungsi yang sama
dengan gambar yang diberikan kustemer.
3. Marketing
Pembuatan harga dalam pembuatan kabel PT. HI-LEX
INDONESIA mempunyai badan yang bernama Marketing. Dalam hal ini marketing
mempunyai tugas diantaranya:
a.
Membuat rencana aktivitas untuk setiap model baru, dan
memberikan laporan program aktifitas.
b.
Membuat master list untuk setiap komponen baru
(termasuk standar kemasan serta jumlah barang dalam setiap bungkus).
c.
Bertanggung jawab atas ketepatan pengiriman sample,
sesuai schedule yang ditetapkan pelanggan.
Gambar kabel yang baru dari kustemer diambil oleh
marketing untuk dipelajari oleh bagian DPD, dalam hal ini marketing sudah mempersiapkan
harga dalam pembuatan kabel tersebut sehingga ketika gambar sudah dapat dibuat,
maka marketing tinggal negosiasi oleh pihak perusahaan.
Bila gambar yang akan dibuat mengalami perubahan design,
maka dari marketing langsung memberikan gambar ke customer dengan alasan bahwa tidak
sesuai dengan bahan, dan kustemerpun memberikan perubahan gambar kabel yang
akan dibuat sampai gambar tersebut benar-benar sudah dapat dibuat di PT. HI-LEX INDONESIA.
Marketing juga
bertugas memberikan job yang akan dikerjakan oleh bagian assembling, dalam hal
ini marketing mempunyai andil dalam menentukan harga, bila ada modifikasi.
Marketing juga harus siap dalam penurunan harga yaitu “cost down” ini merupakan
program perusahaan yang memberikan penurunan harga yang disebut dengan “VA/VE”.
Dalam “VA/VE” marketing harus memberikan harga yang cocok sehingga perusahaan
tidak mengalami kerugian.
4. Design Product Development (DPD)
Dalam hal
pembuatan/perubahan gambar, PT. HI-LEX
INDONESIA membuat departemen yang bernama DPD. Badan ini bertugas
antara lain:
a.
Menerima dan mempelajari gambar-gambar baru/sample dll,
yang diberikan oleh pelanggan.
b.
Membuat drawing produksi dan komponen untuk pembuatan estimasi
harga.
c.
Membuat drawing approval untuk pelanggan (bila
dipersyaratkan).
d. Mendistribusikan dan mengontrol
dokumen drawing.
Dalam
hal ini bila dalam penerimaan drawing kustemer yang diberikan oleh Marketing
akan dipelajari oleh DPD sebagai acuan untuk membuat kabel. Selanjutnya DPD
akan menentukan apakah bahan yang ada dalam
drawing kustemer dapat dan sesuai dengan bahan yang ada di PT. HI-LEX INDONESIA.
Apabila
ditemukan adanya suatu bayang tidak sesuai, maka PT. HI-LEX INDONESIA/DPD mengajukan ‘REQUEST’ kepada kustemer untuk
mengganti dan memberikan drawing komponen yang sudah sesuai dengan bahan untuk dapat
dipelajari lagi oleh DPD. Proses pembuatan kabel baru membutuhkan percobaan
atau ‘TRIAL’ baik pada kustemer di Jepang dan sampai di kendaraan yang akan
dipasang.
Seorang
supervisor yang bertugas di DPD mempunyai andil besar karena dengan adanya
pengawasan sehingga kinerja pembuatan gambar proses, gambar component, proses
modifikasi, proses bagian baru, pembuatan maker drawing tidak bertubrukan dan
dapat dikendalikan.
Gambar-gambar yang baru dan datang dari Jepang masih
harus dipelajari lagi di DPD untuk diproses apakah komponen ini di datangkan
dari supplier lokal ataupun impor dari Jepang, Design Product Development juga
bertanggung jawab dalam proses pembuatan gambar yang akan digunakan di
Assembling, DPD sendiri merupakan bagian dari Quality Control yang menangani
proses pengontrolan kualitas terhadap pembuatan kabel.
DPD
dalam hal ini mempunyai tanggung jawab besar karena setiap kesalahan pertama
itu datang dari pembuatan gambar itu sendiri. Bila dalam sebuah proses kabel ada
salah satu dimensi dari bagian kabel tersebut
yang tidak sesuai gambar, maka secara otomatis kabel tersebut tidak
dapat digunakan oleh konsumen dan hal ini membuat kerugian yang besar bagi
perusahaan, karena perusahaan sudah mengeluarkan banyak dana dan dalam hal untuk
pembelian material barang.
Dalam
setiap pembuatan approval drawing, DPD selalu menyiapkan berbagai bahan yang
ada, dan selalu bekerja sama dengan pihak HI-LEX
CORPORATION di Jepang. Adanya kerja sama ini menjadikan masalah-masalah
dalam pembuatan kabel dan petunjuk pembuatan kabel baru serta modifikasi sesuatu
hal kecilpun menjadi lebih mudah dalam pelaksanaannya, karena di Jepang sendiri
selalu mengadakan trial untuk setiap percobaan.
5. Electronic Data Process (EDP)
Setiap proses produksi kabel, harus ada data di
IBM. Dalam hal ini kabel yang sudah sesuai dan siap diproduksi di Assembling
harus dimasukan datanya ke IBM. Departemen atau badan yang bertugas memasukan
data adalah EDP. Dalam hal ini EDP bertugas dalam pemasukan data komponen yang
siap diproses ke IBM.
Selain itu, EDP juga bertugas memasukan data ke
SERVER, hal ini di mungkinkan karena data yang diperoleh dari perusahaan harus
sesuai. Adapula tugas EDP yaitu mereparasi alat-alat elektronik yang
berhubungan dengan komputer, sistem software yang mengalami kerusakan
didalamnya.
Tugas dari EDP sendiri adalah:
·
Menunjang
sistem jaringan operasional yang ada diperusahaan.
·
Bertanggung
jawab kepada perusahaan dari proses material sampai akhir proses kabel.
Dalam
penerapannya EDP menjadi juru kunci dalam setiap proses produksi, ini dikarenakan
setiap proses pembuatan kabel di PT. HI-LEX
INDONESIA melewati jaringan komputer,
misalkan saja internet bila ada kerusakan sistem internet, DPD tidak dapat
mengambil gambar ke HI-LEX CORPORATION
Jepang, setiap keluhan yang ada dalam persoalan dengan komputer dan sistem
jaringan IBM yang menyangkut masalah internal perusahaan, ini menjadi tanggung
jawab EDP.
6. Assembling
Dalam setiap proses harus melalui prosedur yang
ada dalam setiap perusahaan, setelah data-data masuk maka proses selanjutnya
adalah di Assembling. Assembling dalam hal ini dituntut secara maksimal untuk
menghasilkan kabel yang standar dengan jaminan kualitas mutu yang baik, tetapi
dalam prakteknya sering sekali terjadi kesalahan dalam pembuatan kabel.
Hal ini terjadi karena penyalahgunaan part yang
sama dan dimensi yang ada di dalam gambar, seperti hal lainnya dalam proses
pemasangan kabel, setiap operator mesin harus bisa mengoperasikan sebuah mesin dengan
tingkat kecelakaan yang cukup tinggi. Karena setiap proses sebuah kabel,
masing-masing operator dituntut untuk disiplin dalam pekerjaannya karena setiap
kabel mempunyai kesulitan tersendiri.
Hal ini telah menjadikan jumlah angka kecelakaan
dalam proses produksi menjadi tinggi sekali. Seorang operator selain harus bisa
mengutamakan keselamatan kerja, kualitas juga harus diperhatikan karena bila
hanya memikirkan sekedar keselamatan kerja dan kualitas yang dihasilkan dalam
proses kecil, maka perusahaan tidak dapat menyelesaikan target dari customer.
Dengan jumlah barang yang dikerjakan dan
diselesaikan tepat waktu, tidak terlepas dari masalah kualitas, masalah yang
lain yang ada dalam perusahaan adalah masalah kualitas juga sangatlah menentukan
nyawa dari perusahaan. Departemen yang menangani masalah ini adalah departemen
yang satu bagian dengan DPD yaitu (QC) Quality Control.
Dalam departemen ini tugasnya adalah mengawasi
hal-hal yang menyangkut Quality System dalam pembuatan kabel. Sebagai
perusahaan yang sudah mendapatkan standar QS, ISO, dan TS ini, maka haruslah
mengutamakan kualitas memperoleh hasil yang standar dan bisa digunakan oleh
konsumen dengan baik. Departemen
QC juga harus bisa melihat
hal-hal dan masalah apa yang ada dalam proses pembuatan kabel dan masalah dari
hasil kabel.
Bila dalam proses pembuatan kabel ini tidak sesuai
dengan bahan dari kustemer, maka QC harus siap di tugaskan untuk mengembalikan
kepercayaan kustemer kepada perusahaan ini agar kembali normal. Assembling
dalam hal ini tidak hanya mengandalkan QC tetapi harus bisa mandiri untuk dapat
menghasilkan kualitas kabel yang sesuai. Target-target yang diberikan oleh
perusahaan ini membuat operator menjadi terburu-buru sehingga hasil dari kabel
tersebut tidak sesuai dengan standar.
Setiap line produksi di bagian Assembling ini
mempunyai seorang pemimpin (Leader) yang bertugas untuk mengawasi jalannya
proses dan harus bertanggung jawab kepada Foreman karena mempunyai hak penuh di
bagian itu, dan seorang Foreman harus bisa bertanggung jawab kepada Supervisor
dalam proses pembuatan kabel.
Di setiap pembuatan kabel dari line yang dipegang
oleh Foreman ini berbeda-beda dalam satu hari. Setiap line tidak hanya menghasilkan
satu jenis kabel. Hal ini tergantung dalam permintaan yang diberikan oleh
customer, dan setiap line bertanggung jawab dalam setiap perubahan itu sendiri,
karena setiap gambar sering mengalami modifikasi. Hal itu memicu proses kabel
menjadi sering mengalami perubahan yang menyebabkan banyaknya kesalahan berupa
penyalahgunaan part dan dimensi.
·

Gambar yang belum dimodifikasi
·
Gambar yang sudah dimodifikasi (penambahan protector)
Dalam pembuatan kabel di Assembling, pengambilan
bagian juga menjadi suatu masalah yang dapat membuat bagian-bagian yang sudah
jadi tidak dapat digunakan oleh para konsumen. Bagian-bagian yang ada di store
room banyak yang mengalami kesamaan tapi material dan ukuran (dimensi)
mempengaruhi dari kegunaan bagian tersebut ketika sedang dipasang di kendaraan.
Setiap bagian yang diambil dari store room, petugasnya dituntut jeli dalam
mengambil komponen yang akan dipakai di Assembling, karena banyaknya kesalahan yang terjadi
karena masalah penggunaan bagian yang ada.
Contoh component part yang sama:
Bila
dilihat dengan sekilas mata mungkin part yang diatas sama, tetapi bila dilihat
dan diukur dengan alat ukur Sigmat maka dimensi/ukuran yang tercantum dalam
bagian tersebut beda dan material yang digunakan dalam membuat bagian tersebut
berbeda. Masalah ini terus mengundang departemen QC yang menangani kontrol
kualitas dalam proses kabel belum jadi sampai yang sudah jadi kabel.
QC
membuat bagian-bagian yang ada tersebut menjadi tidak tertukar dalam proses di assembling,
dengan cara menamai part-part tersebut sewaktu dalam pengecekan di store room.
Selain masalah tersebut, masalah yang
lainnya adalah pengepresan, masalah press ini dilihat memang sepele tapi mempunyai
fungsi yang sangat penting. Hal ini disebabkan bila adanya operator yang salah
dan waktu press casing cap tidak sesuai dengan gambar. Maka akibat dari hal itu
adalah kabel ketika dipasang cepat putus dari outernya. Masalah yang lain dalam
pengepresan adalah jarak antara komponen part dengan outer yang akan dipress
biasanya dalam gambar dicantumkan nilai toleransi yang ada. Toleransi yang diberikan
adalah 2~3. Toleransi ini sering disepelekan oleh operator sehingga waktu proses yang terjadi bukannya
casing cap yang dipress sehingga kabel tidak dapat bergerak sesuai dengan
fungsinya. Gambar dibawah ini adalah proses pemasangan protector ke outer.
STANDARD TIDAK STANDARD
7. Store Room
Setelah kabel selesai dibuat, maka kabel tersebut
dari Assembling masuk ke Store room untuk segera dikirim ke customer. Sebelumnya,
Store room mengecek dahulu kabel yang telah dibuat. Sehingga kesalahan tidak
ditemukan ketika sedang dipasang di kendaraan. Selain sebagai gudang barang
jadi, Store room juga tempat untuk mengecek barang-barang yang akan siap diproduksi
menjadi kabel di Assembling. Part-part yang baru baik lokal maupun impor akan
dipilih sesuai dengan nama komponennya.
·
Protector
Komponen akan diberi nama sesuai dengan
kegunaannya dan materialnya, misalnya “AP100400” ini adalah part atau nama
komponen yang mempunyai fungsi tersendiri yaitu sebagai penahan panas karena
pengaruh dari luar dan pelindung dari gesekan yang dapat menyebabkan kabel
menjadi putus.
·
Rubber
Fungsi
dari rubber adalah sebagai penghalang dari air hujan, part ini hampir selalu
tertukar dengan part lain. Banyak part lain yang sama tetapi materialnya
berbeda karena fungsinya juga berbeda dalam kabel itu sendiri. Komponen ini
dinamakan “AR3010R0”
·
Casing Cap
Part
ini bernama casing cap dengan nomor komponen “AA30238D0” dengan fungsi sebagai
penghubung antara kabel dengan komponen yang akan dipasang di kendaraan. Jenis
casing cap tidak hanya tercantum seperti di atas tetapi banyak dan mempunyai
fungsi yang berbeda-beda dan sesuai dengan bentuk, ukuran, dan materialnya.
Perusahaan yang memproduksi casing cap ini adalah perusahaan yang bernama PT.
HI-LEX PARTS INDONESIA.
Perusahaan ini berlokasi tepat dibelakang PT. HI-LEX INDONESIA. PT.HI-LEX PARTS INDONESIA
ini menjadi Vendor sewaktu PT. LIPPO
masih berdiri dan telah menjadi supplier sampai sekarang.
Setiap
proses yang ada tidak luput dari pengecekan komponen dari store room, sehingga
dalam hal ini store room sebagai gudang juga berfungsi untuk menginspeksi kabel
terakhir hingga kabel itu dapat dikirim dan dinikmati oleh konsumen.
Store
room bertugas untuk menyediakan tempat untuk penempatan komponen material baru
dengan memberikan tanda khusus. Dalam hal ini setiap komponen yang masuk store
room diberikan tanda khusus yang berisikan nama-nama part yang akan digunakan
oleh Assembling untuk diproses menjadi kabel.
Setiap
penamaan ini komponen part diperiksa, karena banyak komponen lokal yang tidak
sesuai dengan dimensi yang ditetapkan. Bila hal itu terjadi, komponen tersebut
ditukar guling dengan komponen yang sama ataupun berbeda. Perbedaan ukuran yang
di tetapkan oleh gambar memegang peranan, karena bila ukuran tidak sesuai maka
dalam pemasangan tidak akan dapat digunakan. Dalam hal ini pemeriksaan komponen
part yang tidak standar lolos ke Assembling bahkan ke customer. Bila terjadi
penemuan kasus yang seperti ini, store room harus mengambil kabel itu agar
tidak terjadi kesalahan di Costumer.
BAB III
LAPORAN KEGIATAN
- Pelaksanan
Kegiatan
Kegiatan yang saya kerjakan
selama mengikuti PRAKERIN di PT.HI-LEX INDONESIA.
- SUB
Bagian Umum
-
Senam
-
Meeting
-
Mengecheak Casing Cap
-
Memarking Casing Cap
-
Mendata IRD
-
Mendata FBI
- SUB
Bagian Mencatat Laporan
-
Mencatat Laporan IRD
-
Mencatat Laporan FBI
-
Mencatat Laporan BOB
-
Mencatat Laporan Daftar Lembur
-
Mencatat Laporan Cuti Karyawan
- SUB
Bagian Khusus
-
Mengantarkan semua data kepada Manager
Seperti data IRD,FBI,BOB,Daftar
Lembur, dan Cuti Karyawan
-
MenScan Data yang ada
-
Mendistribusikan Data IRD
-
Memfoto copy
-
Mendata Daftar lembur
-
Mendata Cuti Karyawan
-
Mengefax data yang ingin dikirim
- SUB
Bagian Lain-Lain
-
Mengambil Gambar Komponen
-
Membuat data IRD dan FBI
-
Mengambil Tinta Hp ( Printer )
-
Mengambil OVER TIME
-
Mengambil Order Barang yang sudah ada
-
Mengantar kan surat izin Karyawan
- Hasil
Laporan
Selama mengikuti kegiatan
PRAKERIN di PT.HI-LEX INDONESIA Mendapatkan hasil kegiatan sebagai berikut:
- Dapat
memahami menggunakan system computer
- Dapat
Disiplin Waktu dan Sikap
- Dapat
menambah banyak pengalaman – pengalaman baru tentang hal-hal mengenai
tata kerja dan alur kerja didunia instansi khususnya di PT. HI-LEX INDONESIA yang tidak dapat
saya dapatkan di sekolahan.
- Dapat
mempelajara komponen apa saja yang terdapat di kendaran Roda dua maupun
Roda 3.
- Dapat
mengetahui sytem operasi apa saja yang di gunakan oleh perusahan.
Siswa
yang bersangkutan
Mega Chintya Purti
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
A.
Kesimpulan
Kesimpulan
yang di dapat penyusun setelah menyelesaikan kegiatan Praktek Kerja
Instansi di PT. HI-LEX INDONESIA
adalah sebagai berikut :
1.
Penyusun
menyadari bahwa ternyata kehidupan di kantor sangat berbeda jauh dengan di
sekolahan.
2.
Penyusun dapat
menerapkan apa yang didapat dan di pelajari di sekolah ketika melakukan
kegiatan Praktek Kerja Instansi di PT. HI-LEX
INDONESIA.
B.
Saran
Sesuia
dengan kesimpulan diatas, penyusun ingin menyamoaikan beberapa saran dengan harapan dapat meningkatkan
kinerja dan motivasi perusahaan agar dapat lebih baik di masa depan.
1.
Agar dspst
terjadi kerjasama yang baik antara PT.HI-LEX
INDONESIA
dengan SMKN 5 Kab.Tangerang
2.
Agar dapat
meningkatkan Motivasi Kinerja yang lebih baik di masa depan.
3.
Agar terus
menjaga keharmonisan Hubungan dengan semua rekan Instansi.
4. Agar dapat terus Menjalankan tugas dengan baik
.