Rabu, 01 Februari 2012

Contoh Laporan PKL


Kata Pengantar



Dengan memanjatkan puji serta syukur Kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan Rahmat dan Hidayah-Nya sehingga penulis dapat melaksanakan kegiatan pendidikan system ganda serta dapat menyelesaikan laporan hasil prakerin ini yang merupakan bagian dari pendidikan sistem ganda.

Laporan ini dibuat sebagai salah satu persyaratan untuk mengikuti ujian akhir nasional dan akhir sekolah.
Pada kesempatan ini saya selaku penulis ingin mengucapkan terima kasih bantuan yang telah di berikan baik moril maupun spiritual, terutama kepada.

1. Mayda Purnama, ST.  sebagai Kepala Sekolah SMK Darussalam Panongan Kabupaten Tangerang
2.   Dadang Hermawan, ST. sebagai Ketua Jurusan Teknik Komputer Jaringan SMK Darussalam Panongan 5 Kabupaten Tangerang  
3.     Juni Setiawan, A.Md  sebagai Pembimbing Sekolah 
4.     Bapak Eddy Djaja sebagai Pimpinan HRD  PT. Hi-Lex Indonesia
5.     Bapak Ujang Maulana sebagai Pembimbing Dunia Industri 
6.     Bapak Ihar sebagai Leader
7.     Ibu Siti Alfiatun
8.     Keluarga Besar PT. Hi-Lex Indonesia
9.     Keluarga Besar SMK Darussalam Panongan Kab. Tangerang
10.                        Seluruh teman-teman yang telah membantu saya dalam penyelesaian laporan.

Akhir kata saya ucapkan terima kasih atas dukungan dan bantuannya. Mohon maaf apabila terdapat kesalahan  dan kekurangan dalam penyusunan laporan kegiatan pedidikan system ganda di PT. HI-LEX INDONESIA. Oleh karena itu, saran dan kritik yang sifatnya membangun sangat saya harapkan guna perbaikan di masa yang akan dan semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi kita semua, khususnya bagi saya sendiri.




BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG
Dalam era globalisasi ini, para siswa-siswi lulusan SMK dituntun untuk dapat mempersiapkan mental dalam menghadapi persaingan di dunia industri yang semakin ketat. Oleh karena itu, setiap pihak Sekolah Menengah Kejuruan menjalin kerjasama dengan dunia industri untuk dapat melaksanakan Program Praktek Kerja Industri.
            Program Praktek Kerja Industri (Prakerin) ini adalah suatu program kegiatan setiap pihak Sekolah Menengah Kejuruan yang dapat memberikan berbagai ilmu pengetahuan dari dunia industri kepada para siswa-siswinya.

B.     DASAR PENULISAN
Adapun beberapa ketentuan yang tertuang pada UU No.2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional, PP No.29 tahun 1990 tentang Pendidikan Menengah, PP No.39 tahun 1992 tentang peran masyarakat dalam Pendidikan Nasional. Adapun isi daripada UU tersebut antara lain:
  1. Penyelenggara pendidikan dilaksanakan melalui 2 (dua) jalur Pendidikan Sekolah dan jalur Pendidikan Luar Sekolah (UUSPN, Bab IV Pasal 10 ayat 1).
  2. Penyelenggaraan Sekolah Menengah dapat bekerja sama dengan masyarakat terutama dunia usaha dan para dermawan untuk memperoleh sumber daya dalam rangka menunjang penyelenggara dan pengembangan pendidikan (PP 29 Bab 29 ayat 1).
  3. Pengadaan dan pendayagunaan Sumber Daya Pendidikan dilakukan oleh pemerintah, masyarakat dan keluarga peserta didik (UUSPN, Bab VIII Pasal 33).
  4. Peran serta masyarakat dapat berbentuk pemberian kesempatan untuk magang dan atau latihan kerja (PP 39 Bab III Pasal 4 Butir 8).
  5. Masyarakat sebagai mitra pemerintah berkesempatan yang seluas-luasnya untuk berperan serta dalam penyelenggara Pendidikan Nasional (UUSPN, Bab XIII Pasal 47 ayat 1).
  6. Pemerintah dan masyarakat menciptakan peluang yang lebih besar untuk meningkatkan peran serta masyarakat dalam Sistem Pendidikan nasional (PP 39 Bab VI Pasal 8 Ayat 2).
  7. Pada Sekolah Menengah dapat dilakukan uji coba gagasan baru yang diperlukan dalam rangka pengembangan pendidikan menengah (PP 29 Bab XIII Pasal 32 Ayat 2).
  8. Pelaku peran serta masyarakat dapat mengadakan forum konsultasi, kerjasama dan koordinasi (PP 39 Bab VI Pasal 10).


C.    MAKSUD DAN TUJUAN
            Tujuan penulisan laporan praktek kerja industri ini tidak lain adalah sebagai salah satu syarat untuk dapat mengikuti Ujian Akhir Nasional. Adapun tujuan lainnya adalah sebagai berikut:
  1. Penulis mampu memahami dan mengembangkan pelajaran di sekolah dan penerapannya di dunia usaha.
  2. Penulis mampu mencari alternatif dalam pemecahan permasalahan kejuruan yang sesuai dengan program studi yang dipilih.
  3. Mengumpulkan data guna kepentingan sekolah dan penulis.
  4. Menambah ilmu dan wawasan serta pengalaman penulis dalam pembuatan suatu laporan kerja.



BAB II
TINJAUAN UMUM PT. HI-LEX INDONESIA

A.    SEJARAH SINGKAT
            PT. LIPPO TSK INDONESIA yang berpusat di jalan Lio Baru Desa Karang Sari, Kecamatan Batu Ceper Tangerang, PO.BOX 126 Tangerang Jawa Barat, Telepon 021-5522331, fax 021-5522325. TSK adalah singkatan dari TARAZUKA SHOKUDOKAN KAISHA, didirikan pada tanggal 21 November 1978 dengan akte Notaris Besasa Daeng Lalo SH, di Jakarta dengan No.104 PT. LIPPO TSK INDONESIA berdiri diatas tanah seluas 21.115 meter persegi, dengan luas bangunan 5000 meter persegi dan berstatus PMA (Penanaman Modal Asing) yang diresmikan pada tanggal 9 Februari 1981.
            PT. LIPPO TSK INDONESIA merupakan perusahaan swasta dengan modal sebesar US$ 2.000.000 pada tahun 1978 dan kemudian pada tahun 1980 mengeluarkan penambahan modal sebesar US$ 1.500.000 atas kerja sama antara Indonesia dengan Jepang. Pihak Indonesia dengan modal 60% sedangkan pihak Jepang 40% maka perusahaan tersebut terdiri dari dua pemegang saham yaitu Indonesia dengan nama NIPPON CABLE SYSTEM INC.
            Mulai tertanggal 1 Agustus 2001 PT. LIPPO TSK INDONESIA sudah berganti nama menjadi PT. HI-LEX INDONESIA dan sekarang luas PT. HI-LEX INDONESIA telah bertambah luas menjadi 5.982 meter persegi (luas tanah dan gedung). Penanaman modal asing (PMA) PT. HI-LEX INDONESIA 100% milik Jepang dan telah mendapatkan sertifikat ISO (Internasional Standard Organization) ISO9002 (tahun 1997), sertifikat QS (Quality System) QS9000 (tahun 2001) dan sertifikat TS 16949.

B.     STRUKTUR ORGANISASI
            Organisasi merupakan hal yang penting bagi perusahaan, karena organisasi merupakan wadah bagi segenap pegawai ataupun karyawan.
            Untuk mencapai suatu tujuan yang telah ditetapkan dan direncanakan, suatu perusahaan tentu tidak akan terlepas dari berbagai macam masalah-masalah organisasi.
            Untuk setiap instansi baik yang bergerak dalam pemerintahan maupun swasta tentu memiliki struktur organisasi dan sangat penting manfaat dan gunanya dalam membantu atasan-atasan dalam menjalankan tugas mereka.
            Organisasi juga merupakan  rangkaian menyusun suatu rangka sebagai wadah bagi segenap kegiatan dari usaha kerjasama, dan juga untuk mempermudah pelaksanaan kerja, membagi-bagi kegiatan atas kegiatan yang khususnya mempermudah pengorganisasian oleh pihak atasan, mencegah kegiatan-kegiatan yang bertumpuk-tumpuk dan sebagainya.
            Karena dengan tanpa adanya struktur organisasi yang jelas dalam suatu lembaga maka akan terjadi suatu kesimpangsiuran dalam bekerja. Namun hal ini tidak akan terjadi apabila suatu lembaga atau perusahaan memiliki struktur organisasi yang jelas dan baik. Oleh karena itu struktur organisasi dipandang sangat perlu dalam suatu lembaga pemerintahan maupun swasta.
            Dalam mengkoordinir setiap kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan perusahaan, perlu adanya kegiatan yang terorganisir sehingga tidak terjadi penyimpangan dalam bekerja, dan untuk tercapainya tujuan dari perusahaan untuk memajukan perusahaan, setiap organisasi mengkoordinir suatu departemen yang dipegangnya.
            Tiap departemen memegang peranan yang sangat vital karena merupakan jantung perusahaan, maka diperlukan adanya kerjasama dan koordinasi antara departemen yang satu dengan yang lain sehingga setiap kesalahan dapat diselesaikan dengan baik. Koordinasi antara PT. HI-LEX INDONESIA sangat solid ini dibuktikan dengan apabila ada permasalahan sekecil apapun namun dapat diselesaikan melalui internal maupun eksternal meeting, kesalahan yang ada pada customer ataupun vendor masing-masing departemen dapat bekerja sama untuk memecahkan setiap permasalahan.
            Sebagai perusahaan yang mempunyai system ISO, QS dan TS maka disetiap departemen selalu diadakan audit secara internal oleh pihak perusahaan ataupun eksternal oleh pihak auditor. Audit secara internal ini adalah penting sehingga setiap kelemahan yang ada dalam tubuh perusahaan selalu bisa dihilangkan. Audit ISO, QS dan TS ini diselenggarakan 1 tahun dua kali.
            Customer juga sering menyelenggarakan audit secara berkala ketika ada kesalahan dalam proses pembuatan kabel maupun kesalahan dalam gambar. Setiap departemen yang terlibat akan memperbaiki segala kesalahan sehingga proses produksi berjalan dengan lancar, sehingga perusahaan dapat menghasilkan barang yang dapat digunakan oleh konsumen.
            Adapun tanggung jawab tiap bagian dalam struktur organisasi PT. HI-LEX INDONESIA adalah sebagai berikut:
1.      President Director bertanggung jawab penuh atas segala sesuatu yang ada dalam perusahaan baik didalam ataupun diluar.
2.      Vice President Director bertindak mewakili tugas-tugas dari President Director apabila berhalangan.
3.      Managing Director mengkoordinir dan bertanggung jawab atas tugas yang diberikan sehari-hari dan kegiatan yang dibawahinya.
4.      Production Manager
·         Mengupayakan cara-cara yang baik untuk memproses barang-barang yang dikerjakan di dalam pabrik sejak barang mentah digudang.
·         Mengontrol penggunaan mesin-mesin yang dipakai dalam produksi.
·         Menghitung waktu dan ongkos yang diperlukan untuk setiap produksi.
·         Mengawasi dan meneliti apakah pekerjaan yang dikerjakan sesuai dengan standard yang ditetapkan atau tidak.
·         Mengkoordinir pekerjaan-pekerjaan yang didelegasikan kepada Supervisor guna kelancaran produksi.
5.       Personal Manager
·         Bertanggung jawab atas penerimaan karyawan baik training maupun tetap.
·         Menempatkan dan memberhentikan karyawan.
·         Bertanggung jawab atas pembayaran gaji.
·         Bertugas menjaga kestabilan atau ketenangan kerja di perusahaan.
·         Bertanggung jawab terhadap kepengurusan fasilitas-fasilitas baik yang menyangkut karyawan maupun pimpinan.
·         Mengurus kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan masyarakat.
6.      Accounting Manager
·         Mengatur prosedur pembukuan yang memenuhi prinsip-prinsip keuangan serta menyajikan data-data keuangan setiap bulan.
·         Merencanakan dan mengendalikan penggunaan dana, dalam hal ini kas.
·         Bertanggung jawab terhadap perhitungan rugi/laba.
·         Mengendalikan kewajiban-kewajibannya terhadap kreditur, pajak serta melaporkan analisa tersebut kepada Managing Director.
7.      Production Manager
Melaksanakan tugasnya dibantu oleh supervisor, supervisor yang membawahi pekerjaan-pekerjaan di pabrik yaitu:
·         Produksi Supervisor bertugas mengawasi proses produksi.
·         Maintenance bertugas dalam penyelesaian produksi pada assembling dan memelihara mesin-mesin.
·         Assembling tugasnya terbagi dari line-line, inspection dan DCM.
·         PPC dan Store Room bertugas mengendalikan dan mengawasi, di dalam hal ini melayani permintaan material dan menyimpan material tersebut, serta melayani permintaan distributor.

C.    KEPEGAWAIAN
            Pegawai adalah golongan masyarakat yang bekerja dan mempunyai aktifitas pada organisasi baik instansi pemerintah maupun kesatuan kerja swasta.



JADWAL JAM KERJA DAY SHIFT 




HARI
JAM SENAM
WAKTU KERJA
ISTIRAHAT
I
II
III
SENIN
KAMIS
07.40
07.50 ~ 16.55
09.50 ~ 10.00
12.00 ~ 12.40
15.40 ~ 15.55
JUM’AT
07.40
07.50 ~ 16.55
09.50 ~ 10.00
11.30 ~ 12.40
15.40 ~ 15.55
SABTU
MINGGU
06.10
06.20 ~ 14.20
09.20 ~ 09.30
11.30 ~ 12.20
15.40 ~ 15.55

  • Shift 1. Jam 06.25-15.25
  • Shift 2. Jam 15.25-24.25
  • Shift 3. Jam 21.25-06.30        





Syarat-syarat penerimaan:
1.      Warga Negara Indonesia dan warga negara asing yang disetujui dan diizinkan untuk bekerja oleh pemerintah Indonesia.
2.      Berumur serendah-rendahnya 17 Tahun.
3.      Berbadan sehat.
4.      Berkelakuan baik dan sesuai dengan keterangan dari kepolisian.
5.      Lulus dalam tes yang diadakan oleh perusahaan.
6.      Tidak terlibat dalam kegiatan partai politik yang bertujuan merubah dasar Negara yang dibuktikan dengan surat keterangan dari instansi pemerintah.
7.      Bersedia mentaati peraturan/tata tertib yang berlaku dalam perusahaan.
8.      Hanya bekerja pada PT. HI-LEX INDONESIA (karyawan yang bekerja pada perusahaan lain tidak diterima sebagai karyawan).

Masa percobaan:
1.      Bagi yang masih dalam masa percobaan ditetapkan selama 3 bulan.
2.      Selama dalam masa percobaan karyawan yang bersangkutan tidak boleh mempunyai hubungan kerja dengan perusahaan atau instansi lain.
3.      Apabila karyawan/karyawati yang telah menyelesaikan masa percobaan dengan baik, diangkat sebagai karyawan tetap.
4.      Karyawan/karyawati yang telah menjadi karyawan tetap akan mendapat haknya menerima upah tetap dan premi hadir.        

Penempatan dan mutasi karyawan:
1.      Karyawan dapat dimutasikan dari bagian satu ke bagian lain sesuai dengan pekerjaan yang membutuhkan keahliannya.
2.      Mutasi akan menumbuhkan rasa kepuasan dan semangat dalam bekerja, juga meningkatkan aktifitas kerja bagi senior yang dimutasikan untuk menduduki posisi suatu jabatan yang lebih tinggi dari posisi jabatan sebelumnya.
D.    SISTEM PROSES KONTROL KABEL DIAMETER PT. HI-LEX INDONESIA
1.      Customer
Customer atau pelanggan adalah sebuah perusahaan yang membeli kabel di PT. HI-LEX INDONESIA, kebanyakan customer bergerak dibidang automotif karena kabel yang ada di PT. HI-LEX INDONESIA merupakan kabel-kabel motor dan mobil, adapun jenis-jenis kabel yang diproduksi antara lain:
·         Cable assy, Parking Brake (Rem)
·         Cable assy, Hand Brake (Rem)
·         Cable assy, Front Brake (Rem)
·         Cable assy, Cluth (Kopling)
·         Cable assy, Accelerator (Gas)
·         Cable assy, Speedometer (RPM)
·         Cable assy, Transmission (Great Transmisi)
·         Cable assy, Fuel Lid Lock, dll.
            Jenis-jenis produk tersebut dikirim setiap hari pada pelanggan/kustemer untuk keperluan suku cadang kendaraan. Adapun definisi dari customer itu sendiri yaitu pelanggan dari produk yang dihasilkan oleh pembuat (Produsen) dalam hal ini customer disebut sebagai konsumen atau pemakai, sebagai contoh PT. HI-LEX INDONESIA disebut sebagai pembuat atau penghasil suku cadang automotif baik motor maupun mobil sedangkan kustemer seperti HONDA, SUZUKI, ISUZU, dan lain-lain disebut sebagai pelanggan atau pemakai produk yang dihasilkan oleh PT. HI-LEX INDONESIA.
a. Nama-nama perusahaan pelanggan (Customer)
·         PT. Toyota Astra Motor.
·         PT. Astra Honda Motor.
·         PT. Indomobil Suzuki INT.
·         PT. Astra Daihatsu Motor.
·         PT. Astra Honda Mobil.
·         PT. Yamaha.
·         PT. Kawasaki.
2.   Drawing Kustemer
Dalam pembuatan kabel di PT. HI-LEX INDONESIA, terlebih dahulu customer memberikan drawing ke Marketing yang isinya gambar tentang kabel yang akan dibuat di PT. HI-LEX INDONESIA, gambar kabel itu bisa merupakan master drawing yang akan dijadikan acuan dalam pembuatan kabel, kustemer memberikan gambaran tentang komponen apa yang akan dipergunakan, dimensi material dan gambar detail yang akan membantu dalam proses pembuatan kabel yang akan dibuat.
Pada dasarnya PT. HI-LEX INDONESIA hanya membuat kabel yang sesuai dengan gambar dari kustemer, dan apabila komponen yang ada dalam gambar kustemer tidak ada dalam bahan di PT. HI-LEX INDONESIA, maka gambar tersebut akan dikembalikan ke kustemer dan akan dipelajari oleh pihak kustemer. Dan di dalam pengembalian itu bila kustemer mempunyai bahan lain yang bisa digunakan dalam pembuatan kabel yang akan dibuat, maka kustemer memberikan gambar yang isinya perubahan bahan yang baru.
Bila dalam bahan penggantinya tidak ada juga,  PT. HI-LEX INDONESIA memberikan bahan pengganti yang ada yang bisa dipergunakan dengan mempunyai fungsi yang sama dengan gambar yang diberikan kustemer.

3.      Marketing
Pembuatan harga dalam pembuatan kabel  PT. HI-LEX INDONESIA mempunyai badan yang bernama Marketing. Dalam hal ini marketing mempunyai tugas diantaranya:
a.       Membuat rencana aktivitas untuk setiap model baru, dan memberikan laporan program aktifitas.
b.      Membuat master list untuk setiap komponen baru (termasuk standar kemasan serta jumlah barang dalam setiap bungkus).
c.       Bertanggung jawab atas ketepatan pengiriman sample, sesuai schedule yang ditetapkan pelanggan.
Gambar kabel yang baru dari kustemer diambil oleh marketing untuk dipelajari oleh bagian DPD, dalam hal ini marketing sudah mempersiapkan harga dalam pembuatan kabel tersebut sehingga ketika gambar sudah dapat dibuat, maka marketing tinggal negosiasi oleh pihak perusahaan.
Bila gambar yang akan dibuat mengalami perubahan design, maka dari marketing langsung memberikan gambar ke customer dengan alasan bahwa tidak sesuai dengan bahan, dan kustemerpun memberikan perubahan gambar kabel yang akan dibuat sampai gambar tersebut benar-benar sudah dapat dibuat di PT. HI-LEX INDONESIA.
Marketing juga bertugas memberikan job yang akan dikerjakan oleh bagian assembling, dalam hal ini marketing mempunyai andil dalam menentukan harga, bila ada modifikasi. Marketing juga harus siap dalam penurunan harga yaitu “cost down” ini merupakan program perusahaan yang memberikan penurunan harga yang disebut dengan “VA/VE”. Dalam “VA/VE” marketing harus memberikan harga yang cocok sehingga perusahaan tidak mengalami kerugian.
4.      Design Product Development (DPD)
Dalam hal pembuatan/perubahan gambar, PT. HI-LEX INDONESIA membuat departemen yang bernama DPD. Badan ini bertugas antara lain:
a.       Menerima dan mempelajari gambar-gambar baru/sample dll, yang diberikan oleh pelanggan.
b.      Membuat drawing produksi dan komponen untuk pembuatan estimasi harga.
c.       Membuat drawing approval untuk pelanggan (bila dipersyaratkan).
d.      Mendistribusikan dan mengontrol dokumen drawing.
Dalam hal ini bila dalam penerimaan drawing kustemer yang diberikan oleh Marketing akan dipelajari oleh DPD sebagai acuan untuk membuat kabel. Selanjutnya DPD akan menentukan apakah bahan yang ada dalam  drawing kustemer dapat dan sesuai dengan bahan yang ada di PT. HI-LEX INDONESIA.
Apabila ditemukan adanya suatu bayang tidak sesuai, maka PT. HI-LEX INDONESIA/DPD mengajukan ‘REQUEST’ kepada kustemer untuk mengganti dan memberikan drawing komponen yang sudah sesuai dengan bahan untuk dapat dipelajari lagi oleh DPD. Proses pembuatan kabel baru membutuhkan percobaan atau ‘TRIAL’ baik pada kustemer di Jepang dan sampai di kendaraan yang akan dipasang.
Seorang supervisor yang bertugas di DPD mempunyai andil besar karena dengan adanya pengawasan sehingga kinerja pembuatan gambar proses, gambar component, proses modifikasi, proses bagian baru, pembuatan maker drawing tidak bertubrukan dan dapat dikendalikan.
Gambar-gambar yang baru dan datang dari Jepang masih harus dipelajari lagi di DPD untuk diproses apakah komponen ini di datangkan dari supplier lokal ataupun impor dari Jepang, Design Product Development juga bertanggung jawab dalam proses pembuatan gambar yang akan digunakan di Assembling, DPD sendiri merupakan bagian dari Quality Control yang menangani proses pengontrolan kualitas terhadap pembuatan kabel.
DPD dalam hal ini mempunyai tanggung jawab besar karena setiap kesalahan pertama itu datang dari pembuatan gambar itu sendiri. Bila dalam sebuah proses kabel ada salah satu dimensi dari bagian kabel tersebut  yang tidak sesuai gambar, maka secara otomatis kabel tersebut tidak dapat digunakan oleh konsumen dan hal ini membuat kerugian yang besar bagi perusahaan, karena perusahaan sudah mengeluarkan banyak dana dan dalam hal untuk pembelian material barang.
Dalam setiap pembuatan approval drawing, DPD selalu menyiapkan berbagai bahan yang ada, dan selalu bekerja sama dengan pihak HI-LEX CORPORATION di Jepang. Adanya kerja sama ini menjadikan masalah-masalah dalam pembuatan kabel dan petunjuk pembuatan kabel baru serta modifikasi sesuatu hal kecilpun menjadi lebih mudah dalam pelaksanaannya, karena di Jepang sendiri selalu mengadakan trial untuk setiap percobaan.

5.      Electronic Data Process (EDP)
Setiap proses produksi kabel, harus ada data di IBM. Dalam hal ini kabel yang sudah sesuai dan siap diproduksi di Assembling harus dimasukan datanya ke IBM. Departemen atau badan yang bertugas memasukan data adalah EDP. Dalam hal ini EDP bertugas dalam pemasukan data komponen yang siap diproses ke IBM.
Selain itu, EDP juga bertugas memasukan data ke SERVER, hal ini di mungkinkan karena data yang diperoleh dari perusahaan harus sesuai. Adapula tugas EDP yaitu mereparasi alat-alat elektronik yang berhubungan dengan komputer, sistem software yang mengalami kerusakan didalamnya.
Tugas dari EDP sendiri adalah:
·         Menunjang sistem jaringan operasional yang ada diperusahaan.
·         Bertanggung jawab kepada perusahaan dari proses material sampai akhir proses kabel.
            Dalam penerapannya EDP menjadi juru kunci dalam setiap proses produksi, ini dikarenakan setiap proses pembuatan kabel di PT. HI-LEX INDONESIA melewati jaringan komputer, misalkan saja internet bila ada kerusakan sistem internet, DPD tidak dapat mengambil gambar ke HI-LEX CORPORATION Jepang, setiap keluhan yang ada dalam persoalan dengan komputer dan sistem jaringan IBM yang menyangkut masalah internal perusahaan, ini menjadi tanggung jawab EDP.

6.      Assembling
Dalam setiap proses harus melalui prosedur yang ada dalam setiap perusahaan, setelah data-data masuk maka proses selanjutnya adalah di Assembling. Assembling dalam hal ini dituntut secara maksimal untuk menghasilkan kabel yang standar dengan jaminan kualitas mutu yang baik, tetapi dalam prakteknya sering sekali terjadi kesalahan dalam pembuatan kabel.
Hal ini terjadi karena penyalahgunaan part yang sama dan dimensi yang ada di dalam gambar, seperti hal lainnya dalam proses pemasangan kabel, setiap operator mesin harus bisa mengoperasikan sebuah mesin dengan tingkat kecelakaan yang cukup tinggi. Karena setiap proses sebuah kabel, masing-masing operator dituntut untuk disiplin dalam pekerjaannya karena setiap kabel mempunyai kesulitan tersendiri.
Hal ini telah menjadikan jumlah angka kecelakaan dalam proses produksi menjadi tinggi sekali. Seorang operator selain harus bisa mengutamakan keselamatan kerja, kualitas juga harus diperhatikan karena bila hanya memikirkan sekedar keselamatan kerja dan kualitas yang dihasilkan dalam proses kecil, maka perusahaan tidak dapat menyelesaikan target dari customer.
Dengan jumlah barang yang dikerjakan dan diselesaikan tepat waktu, tidak terlepas dari masalah kualitas, masalah yang lain yang ada dalam perusahaan adalah masalah kualitas juga sangatlah menentukan nyawa dari perusahaan. Departemen yang menangani masalah ini adalah departemen yang satu bagian dengan DPD yaitu (QC) Quality Control.
Dalam departemen ini tugasnya adalah mengawasi hal-hal yang menyangkut Quality System dalam pembuatan kabel. Sebagai perusahaan yang sudah mendapatkan standar QS, ISO, dan TS ini, maka haruslah mengutamakan kualitas memperoleh hasil yang standar dan bisa digunakan oleh konsumen dengan baik. Departemen QC juga harus bisa melihat hal-hal dan masalah apa yang ada dalam proses pembuatan kabel dan masalah dari hasil kabel.
Bila dalam proses pembuatan kabel ini tidak sesuai dengan bahan dari kustemer, maka QC harus siap di tugaskan untuk mengembalikan kepercayaan kustemer kepada perusahaan ini agar kembali normal. Assembling dalam hal ini tidak hanya mengandalkan QC tetapi harus bisa mandiri untuk dapat menghasilkan kualitas kabel yang sesuai. Target-target yang diberikan oleh perusahaan ini membuat operator menjadi terburu-buru sehingga hasil dari kabel tersebut tidak sesuai dengan standar.
Setiap line produksi di bagian Assembling ini mempunyai seorang pemimpin (Leader) yang bertugas untuk mengawasi jalannya proses dan harus bertanggung jawab kepada Foreman karena mempunyai hak penuh di bagian itu, dan seorang Foreman harus bisa bertanggung jawab kepada Supervisor dalam proses pembuatan kabel.
Di setiap pembuatan kabel dari line yang dipegang oleh Foreman ini berbeda-beda dalam satu hari. Setiap line tidak hanya menghasilkan satu jenis kabel. Hal ini tergantung dalam permintaan yang diberikan oleh customer, dan setiap line bertanggung jawab dalam setiap perubahan itu sendiri, karena setiap gambar sering mengalami modifikasi. Hal itu memicu proses kabel menjadi sering mengalami perubahan yang menyebabkan banyaknya kesalahan berupa penyalahgunaan part dan dimensi.
·         Gambar yang belum dimodifikasi
  
·         Gambar yang sudah dimodifikasi (penambahan protector)

  
Dalam pembuatan kabel di Assembling, pengambilan bagian juga menjadi suatu masalah yang dapat membuat bagian-bagian yang sudah jadi tidak dapat digunakan oleh para konsumen. Bagian-bagian yang ada di store room banyak yang mengalami kesamaan tapi material dan ukuran (dimensi) mempengaruhi dari kegunaan bagian tersebut ketika sedang dipasang di kendaraan. Setiap bagian yang diambil dari store room, petugasnya dituntut jeli dalam mengambil komponen yang akan dipakai di Assembling,  karena banyaknya kesalahan yang terjadi karena masalah penggunaan bagian yang ada.

Contoh component part yang sama:
 


Bila dilihat dengan sekilas mata mungkin part yang diatas sama, tetapi bila dilihat dan diukur dengan alat ukur Sigmat maka dimensi/ukuran yang tercantum dalam bagian tersebut beda dan material yang digunakan dalam membuat bagian tersebut berbeda. Masalah ini terus mengundang departemen QC yang menangani kontrol kualitas dalam proses kabel belum jadi sampai yang sudah jadi kabel.
QC membuat bagian-bagian yang ada tersebut menjadi tidak tertukar dalam proses di assembling, dengan cara menamai part-part tersebut sewaktu dalam pengecekan di store room.
      Selain masalah tersebut, masalah yang lainnya adalah pengepresan, masalah press ini dilihat memang sepele tapi mempunyai fungsi yang sangat penting. Hal ini disebabkan bila adanya operator yang salah dan waktu press casing cap tidak sesuai dengan gambar. Maka akibat dari hal itu adalah kabel ketika dipasang cepat putus dari outernya. Masalah yang lain dalam pengepresan adalah jarak antara komponen part dengan outer yang akan dipress biasanya dalam gambar dicantumkan nilai toleransi yang ada. Toleransi yang diberikan adalah 2~3. Toleransi ini sering disepelekan oleh operator  sehingga waktu proses yang terjadi bukannya casing cap yang dipress sehingga kabel tidak dapat bergerak sesuai dengan fungsinya. Gambar dibawah ini adalah proses pemasangan protector ke outer.
            STANDARD                             TIDAK STANDARD


7.      Store Room

Setelah kabel selesai dibuat, maka kabel tersebut dari Assembling masuk ke Store room untuk segera dikirim ke customer. Sebelumnya, Store room mengecek dahulu kabel yang telah dibuat. Sehingga kesalahan tidak ditemukan ketika sedang dipasang di kendaraan. Selain sebagai gudang barang jadi, Store room juga tempat untuk mengecek barang-barang yang akan siap diproduksi menjadi kabel di Assembling. Part-part yang baru baik lokal maupun impor akan dipilih sesuai dengan nama komponennya.
·         Protector
Komponen akan diberi nama sesuai dengan kegunaannya dan materialnya, misalnya “AP100400” ini adalah part atau nama komponen yang mempunyai fungsi tersendiri yaitu sebagai penahan panas karena pengaruh dari luar dan pelindung dari gesekan yang dapat menyebabkan kabel menjadi putus.

·         Rubber
      Fungsi dari rubber adalah sebagai penghalang dari air hujan, part ini hampir selalu tertukar dengan part lain. Banyak part lain yang sama tetapi materialnya berbeda karena fungsinya juga berbeda dalam kabel itu sendiri. Komponen ini dinamakan “AR3010R0”
·         Casing Cap
      Part ini bernama casing cap dengan nomor komponen “AA30238D0” dengan fungsi sebagai penghubung antara kabel dengan komponen yang akan dipasang di kendaraan. Jenis casing cap tidak hanya tercantum seperti di atas tetapi banyak dan mempunyai fungsi yang berbeda-beda dan sesuai dengan bentuk, ukuran, dan materialnya. Perusahaan yang memproduksi casing cap ini adalah perusahaan yang bernama  PT. HI-LEX PARTS INDONESIA. Perusahaan ini berlokasi tepat dibelakang PT. HI-LEX INDONESIA. PT.HI-LEX PARTS INDONESIA ini menjadi Vendor sewaktu PT. LIPPO masih berdiri dan telah menjadi supplier sampai sekarang.
      Setiap proses yang ada tidak luput dari pengecekan komponen dari store room, sehingga dalam hal ini store room sebagai gudang juga berfungsi untuk menginspeksi kabel terakhir hingga kabel itu dapat dikirim dan dinikmati oleh konsumen.
            Store room bertugas untuk menyediakan tempat untuk penempatan komponen material baru dengan memberikan tanda khusus. Dalam hal ini setiap komponen yang masuk store room diberikan tanda khusus yang berisikan nama-nama part yang akan digunakan oleh Assembling untuk diproses menjadi kabel.
            Setiap penamaan ini komponen part diperiksa, karena banyak komponen lokal yang tidak sesuai dengan dimensi yang ditetapkan. Bila hal itu terjadi, komponen tersebut ditukar guling dengan komponen yang sama ataupun berbeda. Perbedaan ukuran yang di tetapkan oleh gambar memegang peranan, karena bila ukuran tidak sesuai maka dalam pemasangan tidak akan dapat digunakan. Dalam hal ini pemeriksaan komponen part yang tidak standar lolos ke Assembling bahkan ke customer. Bila terjadi penemuan kasus yang seperti ini, store room harus mengambil kabel itu agar tidak terjadi kesalahan di Costumer.



BAB III

LAPORAN KEGIATAN


  1. Pelaksanan Kegiatan
Kegiatan yang saya kerjakan selama mengikuti PRAKERIN di PT.HI-LEX INDONESIA.

    1. SUB Bagian Umum
-          Senam
-          Meeting
-          Mengecheak Casing Cap
-          Memarking Casing Cap
-          Mendata IRD
-          Mendata FBI

    1. SUB Bagian Mencatat Laporan
-          Mencatat Laporan IRD
-          Mencatat Laporan FBI
-          Mencatat Laporan BOB
-          Mencatat Laporan Daftar Lembur
-          Mencatat Laporan Cuti Karyawan

    1. SUB Bagian Khusus
-          Mengantarkan semua data kepada Manager
Seperti data IRD,FBI,BOB,Daftar Lembur, dan Cuti Karyawan
-          MenScan Data yang ada
-          Mendistribusikan Data IRD
-          Memfoto copy
-          Mendata Daftar lembur
-          Mendata Cuti Karyawan
-          Mengefax data yang ingin dikirim

    1. SUB Bagian Lain-Lain
-          Mengambil Gambar Komponen
-          Membuat data IRD dan FBI
-          Mengambil Tinta Hp ( Printer )
-          Mengambil OVER TIME
-          Mengambil Order Barang yang sudah ada
-          Mengantar kan surat izin Karyawan




  1. Hasil Laporan
Selama mengikuti kegiatan PRAKERIN di PT.HI-LEX INDONESIA Mendapatkan hasil kegiatan sebagai berikut:

    1. Dapat memahami menggunakan system computer
    2. Dapat Disiplin  Waktu dan Sikap
    3. Dapat menambah banyak pengalaman – pengalaman baru tentang hal-hal mengenai tata kerja dan alur kerja didunia instansi khususnya di PT. HI-LEX INDONESIA yang tidak dapat saya dapatkan di sekolahan.
    4. Dapat mempelajara komponen apa saja yang terdapat di kendaran Roda dua maupun Roda 3.
    5. Dapat mengetahui sytem operasi apa saja yang di gunakan oleh perusahan.








                                                                        Siswa yang bersangkutan




                                                                             Mega Chintya Purti        




















BAB IV


KESIMPULAN DAN SARAN



A.   Kesimpulan
Kesimpulan yang di dapat penyusun setelah menyelesaikan kegiatan Praktek Kerja Instansi  di PT. HI-LEX INDONESIA adalah sebagai berikut :

1.     Penyusun menyadari bahwa ternyata kehidupan di kantor sangat berbeda jauh dengan di sekolahan.
2.     Penyusun dapat menerapkan apa yang didapat dan di pelajari di sekolah ketika melakukan kegiatan Praktek Kerja Instansi di PT. HI-LEX INDONESIA.


B.    Saran
Sesuia dengan kesimpulan diatas, penyusun ingin menyamoaikan beberapa saran           dengan harapan dapat meningkatkan kinerja dan motivasi perusahaan agar dapat lebih baik di masa depan.
     
1.     Agar dspst terjadi kerjasama yang baik antara PT.HI-LEX INDONESIA dengan SMKN 5 Kab.Tangerang
2.     Agar dapat meningkatkan Motivasi Kinerja yang lebih baik di masa depan.
3.     Agar terus menjaga keharmonisan Hubungan dengan semua rekan Instansi.
4.      Agar dapat terus Menjalankan tugas dengan baik








 











1 komentar:

  1. gan, minta ijin copy boleh ?
    buat tambahan bahan dan referensi laporan magang saya.
    makasih gan

    BalasHapus